Rockpile Site
Mengulas inovasi rehabilitasi terumbu karang melalui metode rock pile di Pulau Derawan, sebuah upaya kolaboratif untuk memulihkan ekosistem laut yang rusak.
SELAM


Menghidupkan Kembali Karang Derawan: Cerita dari Situs Rock Pile Senggalau Timur
Bagi siapa pun yang pernah menyelam di Kepulauan Derawan, keindahan bawah lautnya adalah magnet utama. Namun, di balik pesonanya, beberapa titik di kawasan ini menyimpan luka lama akibat praktik pengeboman ikan di masa lalu. Salah satu jawaban atas kerusakan tersebut kini hadir dalam wujud tumpukan batuan yang tertata rapi di dasar laut, yang kita kenal sebagai metode rock pile.
Situs rehabilitasi ini bukan sekadar tumpukan batu biasa, melainkan sebuah simbol harapan bagi masa depan laut Berau.
Apa Itu Metode Rock Pile?
Secara teknis, rock pile adalah metode rehabilitasi aktif yang menggunakan tumpukan batuan alami, seperti limestone (batu kapur) atau batuan vulkanik. Di Derawan, batuan berdiameter 20–30 cm disusun dalam konfigurasi tertentu di atas hamparan rubble atau pecahan karang mati yang tidak stabil.
Tujuan utamanya jelas: menyediakan substrat yang kokoh bagi larva karang (planula) untuk menempel dan tumbuh secara alami tanpa perlu melakukan transplantasi karang secara langsung.
Sentuhan Budaya di Senggalau Timur
Satu hal yang menarik dari proyek di Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Kepulauan Derawan adalah bagaimana aspek teknis dipadukan dengan nilai lokal. Di situs Senggalau Timur, desain rehabilitasinya mengusung tema budaya lokal yang disebut Naga Sekuin—perahu naga berkepala dua.
Instalasi yang dimulai pada tahun 2022 ini tidak hanya bertujuan untuk ekologi, tetapi juga dirancang agar memiliki nilai estetika sebagai destinasi wisata selam di masa depan. Setiap unit rock pile biasanya memiliki dimensi 4 x 4 x 1 meter, yang kemudian dikelompokkan menjadi blok-blok besar untuk menciptakan rugositas atau celah-celah yang disukai ikan karang sebagai tempat berlindung.
Mengapa Harus Rock Pile?
Sebagai seorang pengamat lingkungan, saya melihat ada beberapa alasan mengapa metode yang dipopulerkan oleh WWF Indonesia ini sangat relevan bagi komunitas lokal:
Sederhana & Kolaboratif: Prosesnya melibatkan masyarakat lokal dan pemangku kepentingan, mulai dari pengangkutan batu hingga pemantauan berkala.
Biaya Terjangkau: Material batunya relatif mudah didapat dan biaya perawatannya jauh lebih murah dibandingkan metode teknologi tinggi lainnya.
Alami: Karena tidak menggunakan material plastik atau logam, metode ini menghindari masuknya spesies invasif dan menjaga karakteristik asli terumbu karang setempat.
Tantangan di Balik Layar
Tentu saja, memulihkan alam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Situs rock pile membutuhkan waktu yang cukup lama agar planula karang bisa menempel dan tumbuh hingga menutupi seluruh struktur batu. Monitoring rutin sangat diperlukan untuk memastikan struktur batuan tetap rapi dan tidak tertutup oleh makroalga yang bisa menghambat pertumbuhan karang keras.
Referensi: BMP Rock Pile - Panduan Rehabilitasi Terumbu Karang Kolaboratif (WWF-Indonesia, 2023).
Kontak
Hubungi kami
Email:
© 2025. All rights reserved.


Kolaborasi















